Posts

Showing posts from January, 2020

Sastra (5)

Membiru Aku ini manik-manik warna warni Tujuh tahu silam, Aku mendekapmu dalam puisi Kau adalah sunyi yang lahir dari jalan panjang yang tak genap kususuri Seperti langit yang tergesa melarikan pagi, mencuri jingga dan bersembunyi Hanya meninggalkan nomor rumahmu Dan tagihan kenangan yang tak sanggup kubayar sendiri Empat tahun silam Aku masih merengkuhmu dalam puisi Kulihat kau adalah lembar kosong, Setelah membuat coretan besar Sedang aku adalah hujan setelah mendung Perkawinan kita garis antara biru laut dan biru langit Tempat damai bagi ikan dan burung Yang ujungnya hanyalah mata Tanpa sebuah perjumpaan 27/01/2020

Sastra (4)

Lilin Jagalah lilin ini Jangan biarkan angin menyapu denyutnya Sebab kau tak tahu Apa yang ku tahu Sebab lilin ini wakil cintaku Tiada patut kau padamkan Bara semesta Atau kau takkan berarti Dan tak dilihat Jika lilin ini mati Maka matilah cinta Pada hatimu yang tak nampak Kau takkan lihat lagi Anak kecil merambati persawahan Karena sawah ikut mati Dan tak dapat kau lihat lagi Sunyi pagi di timur tanah jawi Tak akan pernah Jika lilin ini mati Tiada indah lagi Alamku pun ikut mati Bersemayam.. 24/06/2015

Sastra (3)

Perempuan Desa Kaulah perempuan terbalut adat Aturan yang selalu menjerat Namun itu, karismamu takkan berkarat Kaulah perempuan dari masa lalu Walau nyanyian lumbung padi sudah jadi abu Sukmamu selalu merajut kalbu Angin semilir menerpa rumput yang kian merindu Memberi isyarat Kaulah perempuan yang bangkit dari lahat Kini datang membawa jutaan peluru Bekal menyampaikan dendam leluhur leluhurmu Karena adatmu sudah dirusak jaman Kebayamu telah dibobol kebaya edan Penutup kepala telah berubah haluan Menjadi penutup sekujur badan Kini, kembang desa miskin etika Bagai bunga layu, Namun itu sudah biasa Kaulah itu, perempuan desa Sukmamu kian menyala Di jaman Hak Asasi Yang diperjuangkan menjadi alibi Kaulah itu Hanya menjadi sejarah masa lalu Sukmamu kian menyala 31/03/2015

Sastra (2)

Sajak Sehelai Daun Aku selembar daun jatuh Diatas riak sungai Menyaksikan rerumputan Menjalari tubuh air gelombang Aku selembar daun jatuh Membayangkan tunas rumput Penuhi tiang tegak di tanahmu Aku selembar daun jatuh Menyimpan kagum di poriku Yang mengering terurai maut Di tanah milikmu, tanah airku Aku selembar daun jatuh Melihat keikhlasan matahari Mempertahankan tanahmu Gemah ripah loh jinawi Aku selembar daun jatuh Memohon penghidupan Tuhan Semesta Alam Ah, tapi siapa aku? Sehelai daun.. Di setiap sel tubuhku Darahku, mengalir cinta Pada tanahmu, tanahku Sampai sajakku lenyap Namun takkan pernah 28/10/2015

Sastra (1)

Gadis Manis Rindu Akan Pulang Kristal cantik bergulir di jalan yang sepi Menutup jalanan dengan kilau suci Rasa dingin mengejar anak kecil berpenutup wol Lapak jajanan sudah menghilang Ditelan salju di dunia seberang Pelan pelan rubah menghembus Menikmati panas dari tubuhnya Lalu burung camar ikut menari Lebih suka pada musim ini Daun cemara yang terkikis Berhenti untuk merajut mimpi Dalam kedinginan sunyi Sementara rumah-rumah meramai Berkumpul lah mereka dalam satu meja Mengguyur salju dengan tawa Sambil meliukkan teko mereka Aromanya mengepul di udara Namun ada seorang di balik jendela Gadis manis anak siapa? Hiruk pikuk tak dapat menghalanginya Tangan mungil itu Berbalut perjuangan Siapa tau jalan cerita? Menggenggam secarik nostalgia Dalam foto yang hampa Lalu air itu meleleh Panas hatinya membara Mengalahkan salju dan udara luar Ia mena...